ARTIKEL ETNOMATEMATIKA




PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENYENANGKAN BERBASIS ETNOMATEMATIKA DARI KONTEKS CANDI BOROBUDUR UNTUK SISWA SMP

Sarwo Edi
Program Studi Pendidikan Matematika
Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY

Abstrak
Pembelajaran matematika yang menyenangkan merupakan hal yang harus dilakukan pada setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu inovasi pembelajaran matematika perlu dilakukan. Salah satu inovasi pembelajaran yang dapat dilakukan adalah menyelenggarakan pembelajaran matematika berbasis etnomatematika. Etnomatematika merupakan pendekatan pembelajaran matematika berbasis budaya, oleh karena itu pembelajaran matematika berbasis etnomatematika dapat menggunakan konteks Candi Borobudur sebagai warisan budaya Indonesia. Teknik yang digunakan dalam mengembangkan artikel ini yaitu persiapan (plan), implementasi (mengajar/do), dan refleksi (see). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagian-bagian atau bentuk pada Candi Borobudur sebagian besar berkaitan dengan etnomatematika.
Kata kunci: pembelajaran matematika, etnomatematika, Candi Borobudur

A.      Latar Belakang
1.      Latar Belakang
Pembelajaran matematika yang menyenangkan merupakan hal yang harus dilakukan pada setiap satuan pendidikan. Hal tersebut sesuai dengan Permendikbud Nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah yang menjelaskan bahwa pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikolois peserta didik. Oleh karena itu, inovasi pembelajaran matematika sangat diperlukan.
Inovasi pembelajaran matematika dapat dilakukan dengan pembelajaran matematika berbasis etnomatematika. Menurut Wahyuni (2013) etnomatematika adalah bentuk matematika yang dipengaruhi atau didasarkan pada budaya. Melalui pembelajaran matematika yang didasarkan budaya, peserta didik dapat mengkaji konsep-konsep matematika secara nyata dan menyadari bahwa matematika merupakan hal yang sangat dekat dalam kehidupan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Marsigit, dkk (2016) yang menyatakan bahwa dalam mengajarkan matematika formal (matematika sekolah), guru sebaiknya memulainya dengan menggali pengetahuan informal yang telah diperoleh siswa dari kehidupan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Hal- hal konkret yang ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari dapat dijadikan sumber belajar yang menarik.
Pembelajaran matematika berbasis budaya dapat meningkatkan rasa syukur dan sikap menghargai budaya oleh siswa. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Rosa dan Orey (2009) yang menyatakan bahwa pembelajaran matematika berbasis budaya dapat meningkatkan perhatian siswa terhadap multikulturalisme di sekolah. Kemudian Rosa dan Orey (2009) juga berpendapat bahwa dengan melakukan pembelajaran metematika berbasis budaya dapat meningkatkan sikap saling menghormati terhadap bebagai kebudayaan di dunia. Selain itu Shirley (dalam Hartoyo, 2012) menyatakan bahwa matematika yang timbul dan berkembang dalam masyarakat setempat merupakan pusat pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Hal tersebut dikarenakan siswa mengetahui konsep-konsep tersebut berdasarkan pengalaman mereka secara nyata dalam kehidupan.
Salah satu budaya yang yang dapat dikembangkan menjadi sumber belajar berbasis etnomatematika adalah artefak pada Candi Borobudur. Candi Borobudur adalah sebuah candi Budha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi Borobudur merupakan candi berbentuk stupa yang didirikan oleh oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800-an masehi pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra.
Sebagai warisan budaya dunia, Candi Borobudur dapat digunakan dalam konteks pembelajaran matematika berbasis etnomatematika. Penggunaan konteks Candi Borobudur dalam pembelajaran matematika diharapkan dapat memudahkan siswa menerima konsep-konsep matematika dengan mudah. Hal tersebut dikarenakan konsep matematika digali berdasarkan pengetahuan informal yang diperoleh siswa berdasarkan pengalaman dan pengetahuan siswa. Pembelajaran matematika berdasarkan etnomatematika Candi Borobudur juga diharapkan dapat membuat pembelajaran matematika menjadi menyenangkan karena pembelajaran matematika tidak dilaksanakan secara kaku , namun digali berdasarkan konteks yang nyata.
2.      Landasan Teori
a.       Pembelajaran Matematika SMP
Pembelajaran menurut Sugihartono dkk 2015) adalah suatu upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, mengorganisasi dan mencipatakan sistem lingkungan dengan berbagai metode sehingga siswa dapat melakukan belajar secara efektif, efisien, dan memperoleh hasil yang optimal. Menurut Suherman (2003), pembelajaran adalah upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Sedangkan menurut Gulo (2002), pembelajaran adalah usaha menciptakan sistem lingkungan yang mengoptimalkan kegiatan belajar. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah upaya mengorganisasikan lingkungan sehingga peserta didik dapat belajar secara optimal.
Salah satu pembelajaran yang terjadi di satuan pendidikan SMP adalah matematika. Pembelajaran matematika adalah proses yang dirancang dengan tujuan menciptakan suasana yang memungkinkan siswa mempelajari hubungan antara konsep-konsep dan struktur matematika (Fatkhurohman dkk, 2010). Menurut konsep komunikasi, pembelajran matematika adalah proses komunikasi fungsional antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa dalam rangka perubahan sikap dan pola pikir yang akan menjadi kebiasaan siswa yang bersangkutan (Suherman, 2003). Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah proses pengorganisasian kondisi lingkungan sehingga memungkinkan siswa mempelajari matematika dan terjadi komunikasi fungsional antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa dalam rangka perubahan sikap dan pola pikir.
Pembelajaran matematika SMP disesuaikan dengan karakteristik siswa SMP.  Siswa pada jenjang SMP berkisar pada umur 12-15 tahun. Berdasarkan  tahapan operasional Piaget, siswa pada usia tersebut berada pada tahapan operasional formal (Sugihartono, 2015).  Oleh karena itu penggunaan konteks nyata dalam pembelajaran merupakan hal yang diperlukan pada tahapan ini.
Tujuan khusus dari pembelajaran matematika SMP menurut Suherman (2003) adalah sebagai berikut.
1)   Siswa memilki kemampuan yang dapat dikembangkan melalui kegiatan matematika.
2)   Siswa memilki pengetahuan matematika sebagai bekal untuk melanjutkan ke pendidikan menengah.
3)   Siswa memilki keterampilan matematika sebagai peningkatan dan perluasan dari matematika sekolah dasar untuk dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
4)   Siswa memilki pandangan yang cukup luas dan memilki sikap logis, kritis, cermat, dan disiplin serta menghargai kegunaan matematika.
Berdasarkan tujuan pembelajaran matematika SMP tersebut, pembelajaran matematika SMP dilakukan melalui kegiatan matematika dan menggunakan konteks nyata sehingga matematika dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut akan membuat siswa memiliki sikap logis, kritis, cermat, dan disiplin serta menghargai kegunaan matematika.
b.      Etnomatematika
Istilah etnomatematika pertama kali dikemukakan oleh D’Ambrosio (1985) seorang matematikawan Brazil yang menyatakan etnomatematika sebagai: “The mathematics which is practiced among identifiable cultural group such as national-tribe societies, labour groups, children of certain age brackets, and professional classes”. Etnomatematika sebagai matematika yang dipraktekkan di antara kelompok budaya diidentifikasi seperti masyarakat nasional, suku, kelompok buruh, anaka-anak dari kelompok usia tertentu dan kelas profesional.
D’Ambrosio (Rosa & Orey, 2011: 35) mendefinisikan etnomatematika segabai berikut:
“The prefix ethno is today accepted as a very broad term that refers to the socialcultural context and therefore includes language, jargon, and codes of behavior, myth and symbol. The derivation of mathema is difficult, but tends to mean to explain, to know, to understand, and to do activities such as ciphering, measuring, classifying, inferring, and modelling. The suffix tics is derived from techne, and has the same root as technique”

Istilah tersebut kemudian disempurnakan menjadi: ”I have been using the word ethnomathematics as a modes, styles, and techniques (tics) of explanation, of understanding, and of coping with the natural and cultural system (ethno)”. Artinya: “Saya telah menggunakan kata etnomatematika sebagai mode, gaya, dan teknik (tics) menjelaskan, memahami, dan menghadapi lingkungan alam dan budaya (mathema) dalam sistem budaya yang berbeda (ethnos)” (D’Ambrosio, 1999: 146)
Secara bahasa, awalan etnho diartikan sebagai sesuatu yang sangat luas yang mengacu pada konteks sosial budaya, termasuk bahasa, jargon, kode perilaku, mitos, dan simbol. Kata dasar mathema cenderung berarti menjelaskan, mengetahui, memahami, dan melakukan kegiatan seperti pengkodean, mengukur, mengklasifikasi, menyimpulkan, dan pemodelan. Akhiran tics berasal dari techne, dan bemakna seperti teknik.
     Wahyuni (2013) berpendapat bahwa etnomatematika adalah bentuk matematika yang dipengaruhi atau didasarkan budaya. Sedangkan menurut Barton (dalam Wahyuni, 2013) berpendapat bahwa etnomatematika mencakup ide-ide matematika, pemikiran dan praktek yang dikembangkan oleh semua budaya. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa etnomatmatika adalah pembelajaran matematika yang dikaitkan atau melalui hasil kebudayaan yang ada di masyarakat, baik berupa artefak maupun kebiasaan adat istiadat.
c.       Candi Borobudur
Candi Borobudur adalah sebuah candi Budha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi Borobudur merupakan candi berbentuk stupa yang didirikan oleh oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800-an masehi pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra. Candi Borobudur adalah candi atau kuil Budha terbesar di dunia dan menjadi monumen terbesar di dunia.
Candi Borobudur memiliki tiga bagian yaitu:
1)   Kamadhatu merupakan bagian candi yang paling bawah. Pada bagian ini terdapat lukisan-lukisan pahat yang diambil dari cerita karmawibhangga, yang menggambrkan sebab akibat. Kamadhatu merupakan tingkatan dimana manusia masih terikat kama dan nafsu.
2)   Rupadhatu merupakan bagian tengah candi. Pada bagian ini terdapat lukisan-lukisan pahat yang diambil dari cerita Jatakamala, Lalitawistara, dan Gandawyuka. Rupadhatu merupakan tingkatan dimana manusia masih terikat oleh rupa dan bentuk.
3)   Arupadhatu merupakan bagian candi yang paling atas. Pada bagian ini yang tampak hanya patung Sang Budha yang terkurung atau patung-patung Sang Budha yang tampak di dalam relung. Arupadhatu merupakan kaitan dimana manusia tidak terikat oleh rupa dan bentuk. Manusia telah terbebas dari segala keinginan untuk masuk nirwana.
B.       Metodologi
Jenis metodologi yang digunakan adalah metode study lesson yang terdiri dari Persiapan (Plan), Implementasi (Mengajar/Do), dan Refleksi (See).
1.    Persiapan.
Pada persiapan ini, tahap-tahap yang dilakukan adalah sebagai berikut.
a.       Menentukan lokasi objek etnomatematika.
b.      Menggali informasi terkait objek matematika yang dipilih.
c.       Observasi ke lapangan untuk melakukan verifikasi terkait informasi di website dan juga untuk menambah wawasan terkait objek etnomatematika yang dipilih.
d.      Menentukan kompetensi dari RPP dan LKS yang akan dikembangkan.
e.       Mengembangkan RPP dan LKS sesuai kopetensi yang dipilih.
f.        Kosultasi dengan dosen pengampu yaitu Prof. Dr. Marsigit, M.A selaku dosen pengampu mata kuliah etnomatematika terkait RPP dan LKS yang dikembangkan.
2.    Implementasi (Mengajar/Do)
 Immplementasi bertujuan menguji RPP dan LKS yang dikembangkan. Tahap implementasi dilakukan pada saat perkuliahan etnomatematika dengan memilih guru model.
3.    Refleksi (See)
Refleksi dilakukan untuk menilai LKS yang telah dikembangkan dan pengaplikasiannya kepada siswa dikelas. Refleksi dilakukan setelah implementasi dilaksanakan. Refleksi dilakukan dengan cara diskusi kelas antara dosen, guru model, dan teman sekelas mengenai praktik pembelajaran berbasis etnomatematika yang telah diujikan.
C.      Hasil Penelitian
1.      Persiapan
Pada tahap persiapan, diperoleh hasil berikut.
a.       Lokasi objek matematika yang dipilih adalah Candi Borobudur.
b.      Berdasarkan informasi yang diperoleh dari website, konteks Candi Borobudur dapat digunakan untuk membelajarkan konsep himpunan, pola bilangan, perbandingan, garis dan sudut, segitiga dan segiempat, luas permukaan bangun ruang sisi datar, volume bangun ruang sisi datar, kekongruenan dan kesebangunan, dan transformasi.
c.       Hasil observasi terkait konteks etnomatematika Candi Borobudur adalah sebagai berikut.
No
Objek Matematika
Sumber Diskusi dan Deskripsi
Konteks Matematika
Kelas
Informasi Website
Lokasi
1
Susunan batu yang terletak sebelum lantai satu Candi Borobudur
Dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran dua garis sejajar
Susunan batu yang terletak sebelum lantai satu Candi Borobudur dapat digunakan untuk pembelajarn garis dan sudut
Dua garis sejajar yang dipotong transversal
SMP kelas VII
2
Tangga menuju lantai dua Candi Borobudur
Dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran dua garis sejajar
Bentuk tangga yang lurus dapat digunakan untuk pembelajaran dua garis sejajar
Dua garis sejajar
SMP kelas VII
3
Peta Candi Borobudur yang terletak sebelum memasuki kawasan candi
Dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran perbandingan dan skala
Peta Borobudur memberikan informasi lokasi dan tempat-tempat penting di Candi Borobudur menggunakan konsep perbandingan dan skala
Perbandingan dan Skala
SMP kelas VII
4
Relief di Candi Borobudur
Dapat digunakan untuk pembelajaran kompetensi bangun datar
Relief di Candi Borobudur banyak yang memiliki bentuk geometris seperti lingkaran, segita, persegi dll
Segitiga, segi empat, dan lingkaran
SMP kelas VII dan VIII
5
Bentuk Candi Borobudur
Dapat digunakan untuk pembelajaran kompetensi simetri dan refleksi
Tangga Candi Borobudur menjadi sumbu simetri dan sumbu refleksi
Simetri dan refleksi
SD, SMP, dan SMA
6
Susunan batu Candi Borobudur
Dapat digunakan untuk pembelajaran bangun ruang sisi datar
Candi Borobudur tersusun oleh batu-batu yang berbentuk kubus, balok, dan limas, dan kerucut dapat digunakan untuk pembelajaran bangun ruang sisi datar
Bangun ruang sisi datar dan bangun ruang sisi lengkung
SMP kelas VIII dan IX
7
Bentuk dinding Candi Borobudur
Dapat digunakan untuk pembelajaran sudut siku-siku
Perpotongan dua dinding di Candi Borobudur membentuk sudut siku-siku
Sudut siku-siku
SMP kelas VII
8
Susunan batu Candi Borobudur
Dapat digunakan untuk pembelajaran konfigurasi objek dan pola bilangan
Susunan batu Candi Borobudur yang semakin mengerucut dapat digunakan untuk pembelajaran pola bilangan
Pola bilangan
SMP kelas VIII
9
Bentuk stupa
Dapat digunakan untuk pembelajaran kekongruenan dan kesebangunan
Stupa-stupa di Candi Borobudur memiliki bentuk yang sama dan beberapa memiliki ukuran yang sama dapat digunakan untuk pembelajaran kekongruenan dan kesebangunan
Kekongruenan dan kesebangunan
SMP kelas IX

d.      Mengembangkan RPP dan LKS terkait konteks Candi Borobudur
Kompetensi yang dikembangkan dalam RPP dan LKS adalah luas permukaan kubus dan balok.
e.       Konsultasi dengan dosen pengampu mata kuliah etnomatematika yaitu Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Hasil konsultasi memberikan saran untuk menyesuaikan RPP dan LKS sesuai sintaks pembelajran yang digunakan.
2.      Implementasi (Mengajar/Do)
Setelah mengembangkan perangkat pembelajaran berupa RPP dan LKS berbasis etnomatematika, dua mahasiswa menguji perangkat pembelajaran yang telah disusun. Dua mahasiswa yang terpilih tersebut adalah Fajar Meirani yang mengambil konteks etnomatematika Candi Borobudur dan Nadia Heryani Putri yang mengambil konteks etnomatematika Keraton Yogyakarta.
3.      Refleksi (See)
Setelah melakukan pembelajaran matematika berbasis etnomatematika, dapat direfleksikan sebagai berikut.
a.    Pembelajaran matematika berbasis etnomatematika dilakukan menggunakan konteks budaya.
b.    Apersepsi pembelajaran merupakan kegiatan siswa yang dipersiapkan guru untuk mengingatkan kembali materi yang telah diajarkan dan berfungsi sebagai materi prasyarat materi yang akan dipelajari.
c.    Konteks budaya berperan sebagai matematika konkret untuk mengantarkan siswa menuju matematika formal.
d.    Pembelajaran matematika yang terpusat pada siswa merupakan hal yang harus dilakukan guru selama pembelajaran.
e.    Pembelajaran matematika berbasis etnomatematika akan menciptakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan jika dikelola dengan baik.
D.      Kesimpulan
Etnomatematika merupakan pembelajaran matematika yang menggunakan konteks budaya yang berkembang dalam masyarakat. Pembelajaran matematika berbasis etnomatematika dapat menciptakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan karena konsep-konsep yang diterima siswa sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman siswa yang diperolehnya dalam kehidupan masyarakat. Pembelajaran matematika berbasis etnomatematika juga dapat menumbuhkan sikap siswa menghargai multikulturalisme yang terjadi di sekolah dan dunia serta menumbuhkan sikap siswa dalam melestarikan budaya yang telah berkembang.
Etnomatematika berperan mengantarkan pembelajaran matematika konkret menuju matematika formal. Oleh karena itu, etnomatematika cocok diterapkan dalam pembelajaran matematika SMP yang berada pada tahap operasional formal menurut teori pembelajaran Piaget. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, pembelajaran matematika berbasis etnomatematika perlu dikelola dengan baik oleh guru dengan menciptakan pembelajaran matematika yang terpusat pada siswa.
E.       Daftar Pustaka
D’Ambrosio, U. (1985). Ethomathematics and its place in the history and pedagogy of mathematics. For the Learning of Mathematics, 5(1), 44-48
D’Ambrosio. (1999). Literacy, Matheracy, and Technoracy: A Trivium for Today. Mathematical Thinking and Learning 1(2), 131-153
Erhan Suherman, dkk. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indoesia.
Fatkhurrohman dkk. (2010). Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami. Bandung: Refika Aditama
Gulo. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Grasindo.
Hartoyo, Agung. (2012). Eksplorasi Etnomatematika pada Budaya Masyarakat Dayak Perbatasan Indonesia-Malaysia Kabupaten Sanggau Kalbar. http://jurnal.upi.edu/file/3-agung.pdf. Diakses tanggal 20 Mei 2019
Kemendikbud. (2016). Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tetang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kemendikbud
Marsigit, dkk. (2016). Pengembangan Pembelajaran Matematika Berbasis Etnomatematika. Prosiding Seminar Nasional Etnomatnesia UST. Yogyakarta.
Rosa, M. & Orey, D. (2009). Symmetrical freedom quilts: the ethnomathematics of ways of communication, liberation, and art. Revista Lationamericana de Etnomatematica, 2(2). 52-75
Rosa, M. & Orey, D.C. (2011). Ethnomathematics: the cultural aspects of mathematics. Revista Lationoamericana de Etnomatemática, 4(2). 32-54
Sugihartono,dkk. (2015). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Wahyuni, Astri. 2013. Peran Etnomatematika dalam Membangun Karakter Bangsa. Yogyakarta. https://eprints.uny.ac.id/10738/1/P%20-%2015.pdf. Diakses pada tanggal 21 Mei 2019.
Berikut link untuk mendownload artikel etnomatematika

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penelitian Kualitatif: Fenomenologi

Penelitian Kualitatif: Grounded Theory